Don’t Limit Your Challenges, Challenge Your Limit.

..

Sabtu, 03 Maret 2012

Cerpen (Short Story)


Arti Sahabat
            Ufuk timur gelap , cahayanya tak bersinar seperti biasanya. 3 gadis dari berbeda daerah berjalan dari ma’had Bahrul Ulum menuju MAN Tambakberas. One of school and Islamic Boarding School in Jombang, East  Java. 3 siswi kelas XI IPA 3 ini selalu berangkat bersama. Selain mereka satu pondok, mereka juga kompak. Dimana ada yang satu, pasti ada yang lainnya.
***
            Setiap pagi Safa selalu rajin sarapan. Dari kecil ibunya selalu membiasakan hal itu, karena sarapan dapat mempengaruhi konsentrasi belajar. “ Filla ini, always never breakfast!,” dia selalu ngomel-ngomel setiap pagi, melihat teman akrabnya ini gak pernah sarapan. Emang dasar hobi gadis jutek dari Gresik ini ngomel-ngomel. “fil, fil… pagi gak sarapan, tapi kalau malem makan terus gak behenti-henti, dasar..!!”, sahut Ria, gadis jepang dari Bojonegoro ini, maklum matanya sipit seperti boneka jepang. “iya, hobi kok makan, tidur mulu…”, sahut Safa. “ ya biarin dong, ini kan hidupku,” gerutu Filla.
            Setelah mereka selesai berkoferensi, mereka langsung cabut, nggreng, nggreng,,,, asap kaki mereka berkepul-kepul yang langsung digas maksimal masuk gigi 4, berangkat menuju school. Bergerombol-gerombol siswa-siswi MAN Taras ( sebutan akrab dari MAN Tambakberas) menuju school. Dari ±1700 siswa-siswi MAN, mereka juga termasuk siswi yang rajin. Nah, pada pagi itu mungkin hari na’as mereka. Habis sarapan, marathon bareng-bareng… ealahdalah, sampai sekolah gerbang udah ditutup oleh cak sunk (satpam keren) dan guru ter-hitler Mr. Katmo . dari siswi MAN , na’as hanya merekalah yang digerbang dan ±20 siswa yang terlambat. Sebenarnya mereka tidak terlalu telat, mungkin hanya kalah cepat lari marathon dengan teman yang lainnya. Mereka yang telat biasanya digiring ke halaman MAN induk untuk putri (maklum, MAN memiliki 3 kampus) dan lapangan basket MAN utara untuk putra. Tapi sayang seribu sayang, kali ini mereka diaduk dengan anak putra di lapangan basket, rasa malu yang sungguh tak tertahan, bercampur rasa sedih karena tidak bisa ikut jam pelajaran pertama. Mata Ria mulai memerah, karena air peluh yang sudah dipelupuk mata. Filla yang berteriak-teriak “ Pak, kami gak salah!, ini bukan kesalahan yang fatal, mengapa harus dimix dengan anak putra?”, dia protes dengan kebijakan petugas keamanan sekaligus kedisiplinan school. Maklum, Madrasah Aliyah Negeri memperketat peraturan dan mengutamakan kedisiplinan karena berkeinginan mendaftarkan diri sebagai RMBI ( Rintisan Madrasah Bertaraf Internasional ). Kali ini, Safa yang biasanya suka ngomel-ngomel, tiba-tiba hanya bisa terdiam. Hatinya meluap, api berkobar-kobar rasanya pingin meledak, karena dia berpikir semuanya akan percuma. Apa yang diinginkan Mr. Katmo maka itulah yang akan terjadi, “ he…kenapa kalian telat?”, Tanya Mr. Kamto. “i…tu..pak..” baru Ria menyahut, udah digertak balik Mr. Katmo. “alah, gak usah alasan !”. “Belum jugangomong udah disenggrong !”, gumam Filla dalam hati. Mr.Katmo mengutus mereka untuk menghadap matahari, baik putra maupun putri. Tiba-tiba ponsel Mr.Katmo berdering dan dengan segera beliaupun menuju MAN Induk. “gimana ni Fa ?”, Tanya Ria. “iya…jangan diem aja dong!”, sahut Filla. Tiba-tiba safa berteriak sekeras-kerasnya, dan semua orang langsung menatap mereka bertiga. Suara Safa emang mampu menggemparkan dunia. Setelah berteriak, Safa baru sadar kalau di depannya ada Difi, salah satu pengurus inti OSIS. Difi diminta Mr. Katmo menghukum anak-anak yang terlambat. Karena beliau ada tugas mendadak dari Kepsek. Difi ternyata adalah orang yang selama ini diidolakan Safa. Selain dia pengurus inti OSIS, dia juga tampan, keren, beragama kuat, tidak playboy dan juga menjadi salah satu ketua ma’had di Bahrul Ulum. Pokonya sejuta pesona yang dia miliki deh…
            Filla terengap-engap karena salah satu dari 20 anak putra yang dihukum, ternyata ada siswa putra kelas XI Agama 1 yang bernama Alberd. Nafas keluar masuk berserobotan pada diri gadis yang berasal dari Silver City (Jombang), karena pria remaja itu ternyata adalah HABIBUHA (kekasihnya). Meskipun sudah dilarang berhubunngan dengan lain mahrom, tetap saja banyak santri Bahrul Ulum yang melanggar, karena mereka masih dalam masa puber awal, jadi mereka belum bisa menstabilkan emosi dan obsesi.
***
            Thett…theet…theeet…bel pergantian jam pun berdering. Mereka bertiga, Filla, Safa dan Ria bergegas meninggalkan lapangan basket menuju MAN Induk untuk kembali belajar di kelas. Mereka lari diliputi rasa malu dan kesal yang mendalam, disaat mereka berlari tiba-tiba safa terjatuh, karena tali sepatunya lepas dan dengan sekejap, tiba-tiba seperti ada yang memegang tubuhnya, tidak di sangka ternyata orang itu adalah salah seorang pengurus OSIS yang sigap menangkapnya agar tidak terjatuh, yaitu mas Difi. Mata mereka berdua terbelalak saling beradu pandang. Filla dan Ria tetap berlari menuju kelas, karena tidak mengetahui kalau Safa jatuh dan terhenti langkahnya. Hati berdegup kencang, terutama Safa. Ia tidak mengira kalau akan ada accident besar seperti ini. Sejak kejadian itu mas Difipun merasakan getaran-getaran aneh dalam lubuk hatinya.
“Gini nih, coba tadi pagi Safa gak ngomel suruh sarapan, pasti kita gak telat!”, Filla sibuk ngomel-ngomel
“Sudahlah Fil, yang lalu biarlah berlalu”, sahut Ria.
 “alah, kalau kayak gini nama kita kan tercatat di buku hijau BP, tau sendiri kan? hal itu dapat mempengaruhi nilai kita!”. Omel Filla.
***
            Setelah lama dalam lamunan, mas Difipun melepaskan peganggannya pada Safa.
 “Ehm..kamu anak IPA 3 ya?” Tanya mas Difi.
“eh, he..iya, kok tau?” jawab safa.
“siapa sih yang gak kenal Safa and the Gank?” sahut mas Difi.
“biasa aja, perasaan kami gak buat gank deh!”. Safa heran.
“ ya emang gak buat gank, tapi kalian emang famous, secara Filla terkenal dengan kepandaiannya, Ria yang banyak  dikagumi oleh pria karena keanggunannya dan kamu, yang banyak pria takut dan salut terhadap kejudesanmu. Banyak pria berubah karenamu. Mereka penasaran denganmu, karena kamu cuek bebek banget. Banyak pria yang kagum dengan kalian, banyak pria takluk oleh pesona kalian.” Mas Difi memberanikan mengungkap isi hatinya pada Safa.
“ halah, hari gini masih ja ngegombal , sorry aq gak punya uang receh !” bantah Safa dengan hati berdegup kencang menghadapi idolanya.
 “ aku gak butuh uang receh, aku hanya butuh kamu tau nama ku” promosi Mas Difi.
“ Udah deh, dasar pria narsis, aku gak perlu tau namamu” kata Safa.
” Harus tau pokoknya!” jawab Mas Difi.
“ siapa loe , siapa gue?” antusias Safa.
“alah, pokoknya harus tau, namaku Radifi Candra Satyalencana, panggil aja Difi” narsisnya mas Difi kambuh.
“sebenernya apa sih mau kamu? Seenaknya mendiktatorku! Lagian, pegang-pegang aku seenaknya! Kamu tau kita ini bukan mahrom kan?” gerutu Safa.
“ternyata benar ya kata anak-anak kalau kamu itu jutek abis!”, bela Mas Difi.
“ Ingat, kita ini muslim, kamu tau agama, kamu tau syari’at, kamu terkenal dengan keta’dliman kamu , tapi tenyata sama aja dengan pria lainnya!” emosi Safa meningkat .
 “inilah aku, aku emang ngerti dan mengetahui apa yang kamu bilang, tapi apakah kodratku sebagai manusia tak boleh terjadi? Bukan karena aku muslim, aku harus tertinggal semuanya? Apa aku tak boleh seperti pria lainnya?” jawab Mas Difi.
Dan Safapun langsung pergi meninggalkannya. Tanpa ia sadari ternyata ada Filla dan Ria yang memperhatikan dari tadi, dan juga Yuan anak XII IPS 1 yang dari tadi nguping.
***
            Theet…theet… bel yang menandakan pelajaran usai telah bordering kencang. Hore… seluruh siswa langsung pulang, tanpa bermain ke tempat lain terlebih dahulu,  maklum peraturan pondok pesantren yang mewajibkan mereka langsung kembali ke pondok. Jika mereka melanggar akan ada sanksi dan ta’ziran bagi mereka. Begitu juga dengan Safa, dia langsung menuju pondok agungnya yang indah. Sesampainya dipondok, Safa terkejut melihat dan mendengar teman-temannya memoyok-moyokinya dengan lelaki tampan bendahara OSIS itu.
 “ whe’e...Safa diem-diem menghanyutkan juga ya…!” sahut Mia.
 “apaan sih kalian? Jangan cari gara-gara sama gue, kalo kalian mau selamat!” gertak Safa.
Safa langsug nyelonong menuju kamar imutnya. Filla dan Ria pun langsug ngebuntutinnya.
 “ngapain kalian kesini? Kurang puas mempermalukanku? Membongkar semua rahasiaku?” dengan bersungut-sungut Safa membentak sahabatnya itu.
“afwan ukhti, bukan maksud kami mempermalukan ukhti, kami bahagia karena ukhti bahagia , dan kami  juga heran seorang Safa bisa selembut itu dengan pria. Jarang sekali moment itu terjadi. Tak ada yang berani memujamu seperti itu, selain dia. Dan kebetulan dia jugakan  idola ukhti, bukan begitu?” bela Ria
 “apa itu semua hal yang aneh? Apa aku tak boleh merasakan kodratku sebagai kaum hawa?” jawab Safa.
“jujur, kami gak menyangka kalau akhirnya begini Safa!” tukas Filla.
“ halah, penyesalan pasti datangnya belakangan, kalian seharusnya mengerti posisiku, aku merasa malu, aku gak pantas di sebut sebagai pengurus dan panutan di pondok ini, bagaimana kalau abah dan ibu mendengar desas-desus ini? Kalian harus tanggung jawab!” tegas Safa.
…………………….
“ lebih baik kalian pergi, sebelum amarahku memuncak!” lanjut Safa.
***
            Filla dan Ria pergi meninggalkan Safa. Besok paginya, Safa berangkat sendiri lebih pagi, karena dia masih kesal terhadap sahabat-sahabatnya itu. Tanpa disangka, ketika ia sedang menaruh tasnya didalam laci, ternyata sudah  ada coklat di laci mejanya. Ia terkejut, kemudian dia memberanikan untuk mengambil dan membaca surat yang ada dibawah coklatnya. Ungkapan perasaan sayang dari dalam lubuk hati yang ditulis oleh Mas Difi.




Dear : Arindra Insafa
Maafkan aku.........
Aku sudah berusaha menahan gejolak hati ini , namun semua itu terlanjur meracuni aliran darahku. Aku sudah tersengat pesonamu. Meskipun aku tau, sebenarnya dan tak sewajarnya ku tulis isi hatiku. Sudah cukup lama aku memendam rasa ini sedalam-dalamnya. Inilah bisikan ghoib yang mengubah takdir jalan hidupQ. Aku ingin kau memaklumi ini, dan aku tunggu jawabanmu dengan segera.
By :                 
Radifi Candra S.

“ Hayouwww…!” teman-teman Safa  mengagetinya. Dengan segera dia menyembunyikan kertas merah jambu yang digenggamnya.
***
            “Hai..!” Yuan menyapa Difi, yang memang mereka 1 partner dalam OSIS sekaligus satu ribath.
 “ ya ada apa?”, jawab Difi
“oh..iya kemarin aku melihat seorang cowok didepan koperasi dengan seorang cewek ngobrol gitu deh, dan aku rasa aku mengenalnya. Yang cowok gak begitu jelas, tapi yang cewek itu si cuex bebex deh…!” Yuan memancing Difi dengan berpura-pura tidak tau.
“oh, tak kira apa? Oh..iya laporan pertanggung jawabannya udah selesai atau belum?” Difi mengalihkan pembicaraan.
“udah, rebez bozz..!, btw, kamu kok melencengkan pembicaraan…! Kamu tau gak yang cowok itu siapa?”, Tanya Yuan sambil menepuk pundak Difi
 “ halah, udahlah gak penting banget tau !” cetus Difi.
 “ Justru itu penting banget bagiku! Kamu ngaku aja, itu kamu kan?”, Tanya Yuan memastikan.
 “ apaan sih..?, iya, aku ngak
 itu memang aku, PUAS?” jawab Difi.
“Nah gitu dong, biar nyapnyuzz, hehehehe… Btw, kamu ada hubungan apa dengan Safa?” dengan penasaran Yuean bertanya pada Difi.
“ Bukan apa-apa nih… aku cuma pingin minta bantuan kamu sama Safa, bisa gak?” lanjut Yuean, dia membuat Difi deg-degan, dikiranya Yuean suka sama Safa.
 “ aku gak ada hubungan apa-apa sama dia. Emang minta bantuan apa?” jawab Difi dengan wajah yang ditekuk.“ Yah, sebenarnya aku minta tolong kamu bilang ke Safa kalau aku suka…” sahut Yuan.
“ Jangan bilang kamu suka sama dia?, jadi orang jangan TMT dong!”, tegas Difi.
“Belum kelar ngomong udah nyerocos duluan, aku itu suka sama Ria bukan sama Safa, aku tuh just admire with Safa, karena dia bagai mawar berduri, meskipun cantik tapi sulit digapai” jawab Yuan.
“oalah...gitu tho ceritanya, hehehehe..jadi jealous nih, tak kira kamu suka Safa!” kata Difi.
“gimana nih? Bisa gak?” Tanya Yuan.
“aku usahain deh, InsyaAllah” jawab Difi.
                                                                         ***                                               
            Jam istirahat putra pun telah usai, sekarang giliran anak putri. Safa tiba-tiba kebelet take a lick, ia buru-buru menuju toilet, sebelum menuju toilet dia harus melalui terowongan GJ (gak jelas).  Ternyata ketika dia lewat, dengan tidak sengaja ada Mas Difi yang baru saja mengantar temannya dari UKS. Tak sengaja mereka bertabrakan. GRUBYAKKKK.... mereka berdua terjatuh.
“ eh, maaf…kamu gak apa-apa kan? BTW, gimana jawabannya?” Tanya Mas Difi.
 “ jawaban apa?”
 “kamu sudah baca surat yang tadi kan?” sambung Mas Difi.
 “udah, dan men urutku gak ada yang perlu dijawab kok” jawab Safa
 “maksudnya apa? Kumohon jangan berpura-pura dengan perasaanmu sendiri!,  aku tidak mau kamu menggantungkan hubungan ini!” balas Mas Difi.
 “aku kebelet, aku pingin ke toilet dulu, nanti aja disambung “ sahut Safa. Dengan alasan buang air kecil untuk mengungkapakan perasaannya.
 “Oke!, sampai kapanpun kamu akan selalu kutunggu…” sahut Mas Difi.
            Setelah 5 menit menunggu di belakang UKS, tepatnya di terowongan GJ, akhirnya bidadari hatinya datang juga.
“maaf lama”, ucap Safa.
“ gak apa-apa kok! Menurut kamu gimana?” sahut Mas Difi
 “ to the point aja! Aku gak bisa mas, maafkan aku, jujur aku sudah lama mengidolakanmu, kamu tampan, kamu aktif di organisasi. Kamu punya segalanya, tapi aku gak bisa terus- menerus terjerumus mas, aku sudah terlanjur nadzar untuk tidak melanggar peraturan Bahrul Ulum. Yayasan sangat mengharamkan hubungan kita ini. Maafkan aku mas, kamu jangan sakit hati, ini bukan keinginanku” jawab Safa.
 ”tidak, aku tidak akan sakit hati karena maksud baikmu,  aku tau aku juga salah, tidak semestinya aku melakukan ini, tetapi bagaimana lagi? Semuanya sudah terlanjur, aku tau ini dosa, pacaran termasuk zina, aku juga dapat menerima alasan kamu, tapi izinkan aku suatu saat nanti menjadi pangeran impianmu yang selalu menemani tidurmu. I want to be ... zaujuki daiman abadan…” tukas Mas Difi dengan kemantapan hati.
“hatiku tersentuh mendengar kata-kata yang terucap dari bibir mas…jika kita memang berjodoh, maka takdir akan mempertemukan kita” ucap Safa dengan hati menderu.
“amin..” sahut Mas Difi.
 “ tapi, bukan berarti kita gak bisa bersahabat kan?” Tanya Safa.
 “yupz, kita bukan hanya bersahabat tapi juga bersaudara, aku panggil kamu ukhti dan kamu panggil aku akhi, gimana? setuju?” ucap Mas Difi.
 “ ya udah kalau begitu, sampai jumpa, dan terima kasih udah mengizinkan aku menyayangi kamu, meskipun hanya sebagai saudara!” ucap Safa. Safapun pulang ke pondok, dalam hatinya bergumam bahwa hari ini, merupakan hari yang tak terlupakan.
            Setelah sampai di ma’had ternyata sahabat karibnya, Filla menangis. Setelah diusut ternyata dia baru putus dengan Alberd. Alberd mengajaknya untuk bersahabat saja. Begitupun degan Ria. Ia tidak jadi pacaran dengan Yuean karena larangan dari keluarga. Begitulah  akhir dari perjalanan mereka di ma’had Bahrul Ulum hingga mereka bertiga lulus.

The End

0 komentar:

Poskan Komentar

next more...

u're my inspiration

g